Sabtu, 22 Desember 2012

keterampilan dasar keperawatan


BAB I
PENDAHULUAN
1.      Latar Belakang Penulisan
    Pengukuran yang paling sering dilakukan oleh profesinal kesehatan adalah tanda-tanda vital : suhu tubuh, nadi, respirasi, tekanan darah, dan saturasi oksigen (Perry, Anne Grifin. 2005 p.17)
    Menurut Depkes Republik Indonesia berbagai jenis buangan yang dihasilkan rumah sakit dan unit-unit pelayanan kesehatan yang mana dapat membahayakan dan menimbulkan gangguan kesehataan bagi pengunjung , masyarakat terutama petugas yang menanganinya disebut sebagai limbah klinis.
    Limbah klinis berasal dari pelayanan medis, perawatan, gigi, veterinary, farmasi atau yang sejenisnya serta limbah yang dihasilkan rumah sakit pada saat dilakukan perawatan, pengobatan atau penelitian. Berdasarkan potensi bahaya yang ditimbulkannya limbah klinis dapat digolongkan dalam limbah benda tajam, infeksius, jaringan tubuh, citotoksik, farmasi, kimia, radio aktif dan limbah plastik.
    Pemberian obat yang aman dan akurat merupakan salah satu tugas terpenting perawat. Obat adalah alat utama terapi yang digunakan dokter untuk mengobati klien yang memiliki masalah kesehatan. Perawat bertanggung jawab memahami kerja obat dan efek samping yang ditimbulkan, memberikan obat dengan tepat, memantau respon klien, dan memantau klien menggunakan dengan benar dan berdasarkan pengetahuan (Potter & Perry, 2005. p.991)

2.      Tujuan Penulisan
    Tujuan penulisan makalah ini diantaranya adalah sebagai berikut :
a.       Memahami keterampilan dasar dalam keperawatan
b.      Memahami teknik pengukuran tanda-tanda vital sesuai tahap tumbuh kembang klien.
c.       Memahami cara pengelolaan alat dan bahan terkontaminasi
d.      Memahami cara pembuatan larutan desinfektan
e.       Memahami pertimbangan khusus dalam pemberian obat pada bayi, anak-anak, dan lansia.
f.       Untuk memenuhi tugas individu.
                                                                                     

     BAB II
KETERAMPILAN DASAR KEPERAWATAN
I.     Pengukuran Tanda-tanda Vital Sesuai Tahap Tumbuh Kembang
  1. Pemeriksaan Suhu Tubuh (kozier et all, 2009 p.27)
1.      Bayi
a.       Saat mengukur suhu tubuh bayi melalui aksila. Anda mungkin perlu memegang lengan bayi agar tetap berada didepan dada.
b.      Rute aksila mungkin tidak seakurat rute lain untuk mendeteksi demam pada anak
c.       Rute timpanik cepat dan nyaman. Letakkan bayi pada posisi supine dan buat kepala stabil. Tarik puncak daun telinga dan lurus ke belakang dan sedikit ke bawah. Arahkan ujung thermometer ke depan dan masukkan secukupnya untuk menutup saluran.
d.      Hindari rute timpanik pada anak dengan infeksi telinga yang aktif atau terpasang selang drainase membrane timpani.
e.       Rute rektal adalah pilihan terakhir pada anak

 
2.      Anak
a.       Rute timpani dan aksila adalah yang biasa digunakan
b.      Untuk rute timpanik, biarkan anak di atas pangkuan orang dewasa dengan kepala anak bersandar pada tubuh orang dewasa sebagai penopang. Tarik puncak telinga lurus kebelakang kemudian ke atas untuk anak usia 3 tahun.
c.       Hindari rute timpanik pada anak dengan infeksi telinga yang aktif atau terpasang selang drainase membrane timpani.
d.      Rute oral dapat digunakan untuk anak usia di atas 3 tahun. Direkomendasikan untuk menggunakan termometer yang tahan pecah
e.       Untuk mengukur suhu rektal latakkan anak pada posisi prone di atas pangkuan atau dalam posisi miring dengan lutut fleksi. letakkan thermometer sedalam 1 inci atau 3,5 cm ke dalam rectum
3.      Lansia
a.       Suhu tubuh lansia cenderung lebih rendah daripada suhu dewasa menengah
b.      Suhu tubuh lansia sangat dipengaruhi oleh perubahan suhu lingkungan dan perubahan suhu internal
c.       Lansia dapat menghasilkan serumen telinga yang cukup banyak sehingga dapat mengganggu pembacaan hasil pemeriksaan thermometer timpanik
d.      Lansia cenderung memiliki hemoroid. Inspeksi anus sebelum melakukan pemeriksaan suhu melaui rektal.



  1. Pengukuran Frekuensi Nadi (kozier et all, 2009. p. 37)
1.      Bayi
a.       Gunakan nadi apikal untuk mengkaji fkekuensi detak jantung neonatus, bayi, dan anak usia 2-3 tahun untuk mendapatkan data dasar untuk pengkajian selanjutnya ; untuk menentukan apakah frekuensi detak jantung dalam rentang keadaan normal; dan apakah irama teratur.
b.      Letakkan bayi pada posisi supine dan beri dot bila bayi menangis atau rewel. Menangis dan aktivitas fisik akan meningkatkan frekuensi nadi bayi.
c.       Tentukan lokasi nadi apikal kira-kira satu atau dua ruang di atas apeks dewasa pada saat bayi.
d.      Nadi brakialis, popliteal, dan femoralis dapat dipalpasi. Akibat tekanan darah yang normalya rendah dan detak jantung cepat , nadi distal lainnya pada bayi mungkin sulit untuk diraba.
2.      Anak
a.       Untuk memeriksa nadi perifer, letakkan anak diposisi yang nyaman pada lengan orang dewasa atau biarakan orang dewasa tetap dekat dengan anak.
b.      Untuk mengkaji nadi apikal, bantu anak yang lebih kecil pada posisi supine atau duduk yang lebih nyaman
c.       Demonstrasikan prosedur kepada anak dengan menggunakan boneka atau mainan, dan biarakan anak memegang stetoskop sesaat sebelum prosedur dimulai.
d.      Apeks jantung yang normalnya terletak di interkosta keempat pada anak yang lebih kecil, dan interkosta kelima pada usia anak 7 tahun  dan lebih.
e.       Tentukan lokasi impuls apikal sepanjang ruang interkosta keempat , antara MCL dan garis anterior aksila
3.      Lansia
    Jika klien menderita tremor yang hebat pada tangan atau lengan , denyut nadi radialis mungkin sulit dihitung
  1. Pengukuran frekuensi pernapasan (kozier et all, 2009 p.41)
1.      Bayi
a.       Bayi  atau anak yang menangis memiliki frekuensi pernapasan yang abnormal dan perlu ditenangkan sebelum pernapasan dapat dikaji secara akurat.
b.      Jika diperlukan letakkan tangan dengan lembut  pada abdomen bayi  untuk merasakan naik dan turunnya  abdomen dengan cepat selama pernapasan.
2.      Anak
    Observasi naik turunnya abdomen karena anak yang lebih muda bernapas diafragma. Jika perlu, letakkan tangan dengan lembut diabdomen untuk merasakan naik dan turunnya abdomen dengan cepat selama pernapasan.
3.      Lansia
    Beritahu klien untuk tetap diam atau hitung napas setelah memeriksa denyut nadi.
  1. Pengkajian Tekanan Darah (kozier et all, 2009 p.48)
1.      Bayi
a.       Gunakan stetoskop pediatrik dengan diafragma kecil
b.      Bagian tepi bawah manset tekanan darah dapat lebih dekat ke ruang antekubital bayi
c.       Gunakan metode palpasi jika auskultasi dengan stetoskop atau Doppler tidak berhasil.
d.      Tekanan pada lengan dan paha adalah sama pada anak-anak usia di bawah 1 tahun.
2.      Anak
a.       Jelaskan setiap proses dan apa yang akan dirasakan. Demontrasikan pada boneka.
b.      Gunakan teknik palpasi untuk anak di bawah usia 3 tahun.
c.       Lebar bledder manset harus 40 persen dan panjangnya 80-100 persen dari lingkar lengan
d.      Ukur tekanan darah terlebih dahulu sebelum melakukan prosedur yang tidak nyaman lainnya agar tekanan darah tidak meningkat palsu pada akibat ketidak nyamanan.
e.       Pada anak-anak tekanan diastolit dianggap pada awitan fase 4 , empat suara mulai redup.
f.       Pada anak-anak tekanan bawah paha kurang lebih 10 mm Hg lebih tinggi daripada lengan.
3.      Lansia
a.       Kulit bisa sangat rapuh. Jangan biarkan tekanan manset tetap tinggi lebih lama dari yang diperlukan.
b.      Tentukan apakah klien meminum obat antihipertensi dan jika benar, kapan obat terakhir diminum.
c.       Jika lengan klien mengalami kontraktur , kaji tekanan darah dengan palpasi, saat lengan pada posisi relaksasi, jika tidak memungkinkan lakukan pemeriksaan tekanan darah pada paha.

  1. Pengkajian Nyeri (Carpenito, 2009. P. 201)
1.      Anak
    Bagi anak-anak, pilih skala tertentu yang sesuai dengan perkembangan usia : dapat menggunakan untuk usia atau usia yang lebih muda : libatkan anak dalam memilih skala.
a.    Usia 3 tahun dan lebih tua
     Gunakan gambar wajah atau foto wajah (skala Oucher) berkisar dari foto tersenyum , foto mengerutkan dahi, kemudian foto menangis dengan skala menarik.
b.   Usia 4 tahun dan lebih tua
     Gunakan empang kepingan poker yang berwarna putih untuk menanyakn nyeri kepada anak berupa buah rasa sakit yang dia rasakan (tidak ada nyeri=tidak ada kepingan)

c.    Usia 6 tahun dan lebih tua
     Gunakan skala numerik , 0-05, 0-10 (secara verba atau visual) ; gunakan gambar tubuh yang masih kosong, bagian tubuh depan dan belakang, dan tanyakan kepada anak untuk menggunakan tiga krayon warna atau mewarnai bagian tubuh yang sedikit terasa nyeri, nyeri sedang dan nyeri berat.
d.   Dewasa
    Bagi orang dewasa, gunakan skala analog visual 0 sampai 10 (0=tidak ada nyeri, 10=nyeri yang paling parah yang pernah dialami).
2.      Dewasa
     Bagi orang dewasa, gunakan skala analog visual 0 sampai 10 (0=tidak ada nyeri, 10=nyeri yang paling parah yang pernah dialami).

II.  Membuat Larutan Desifektan (Kusyati, 2006. p.182)
1.      Pengertian
    Menyiapkan/membuat larutan desinfektan sesuai ketentuan (Kusyati, 2006. p.182)
2.      Tujuan
    Menyediakan larutan desinfektan yang dapat digunakan secara tepat guna dan aman serta dalam keadaan siap pakai (Kusyati, 2006. p.182)
3.      Jenis desinfektan (Kusyati, 2006. p.182)
a.       Sabun yang mempunyai daya antiseptik, misalnya Asepso, sopoderm.
b.      Lisol
c.       Kreolin
d.      Savlon
e.       PK (Permanganas Kalikus)
f.       Betadin
4.      Cara pembuatan (Kusyati, 2006. p.182)
a.         Cara membuat larutan sabun (Kusyati, 2006. p.182)
1)        Kegunaan
    Mencuci tangan dan peralatan seperti alat tenun, logam, kaca, karet/plastic, kayu bercat dan yang berlapis formika(Kusyati, 2006. p.182)
2)      Persiapan alat (Kusyati, 2006. p.182)
a)      Sabun padat, sabun krim, atau sabun cair
b)      Gelas ukur/spuit
c)      Timbangan (jika ada)
d)     Pisau atau sendok makan
e)      Alat pengaduk
f)       Air panas atau hangat dalam tempatnya
3)      Prosedur pelaksaan (Kusyati, 2006. p.182)
a)      Membuat larutan dari sabun padat atau krim
    Masukkan sabun pasat sekurang-kurangnya 4 gr ke dalam ember berisi 1 liter air panas atau hangat, lalu aduk sampai larut.
b)      membuat larutan dari sabun cair
        Campurkan 3 cc sabun cair kedalam ember berisi 1 liter air hangat, kemudian aduk sampai rata.

b.      Cara membuat larutan lisol dan kreolin (Kusyati, 2006. p.183)
1)      Kegunaan
a)      Lison 0,5%    : Mencuci tangan.
b)      Lisol 1%        : Desinfektan peralatan perawatan/kedokteran.
c)      Lisol 2-3%     : Merendam peralatan yang digunakan pasien pengidap
  penyakit menular, selama 24 jam.
d)     Kreolin 0,5% : Mendesinfeksi lantai.
e)      Kreolin 2%    : Mendesinfeksi lantai kamar mandi/WC/Spulhok.
2)      Persiapan alat
a)      Larutan lisol
b)      Gelas ukur
c)      Ember berisi air
d)     Ember atau baskom
e)      Kreolin
3)      prosedur pelaksanaan
a)      Membuat larutan lisol atau kreolin 0,5%
    Campurkan 5 cc lisol atau kreolin kedalam 1 liter air.
b)      Membuat larutan lisol atau kreolin 2% atau 3%
    Campurkan 20 cc sampai 30 cc lisol atau kreolin kedalam 1 liter air.
c.       Cara membuat larutan savlon (Kusyati, 2006. p.183)
1)      Kegunaan
a)      Savlon 0,5%  : Mencuci tangan
b)      Savlon 1%     : Merendam peralatan perawatan/kedokteran.
2)      Persiapan alat
a)      Savlon
b)      Gelas ukur
c)      Ember atau baskom
d)     Ember berisi air secukupnya.
3)      Prosedur pelaksanaan
a)      Membuat larutan savlon 0,5%
    Campurkan 5 cc savlon kedalam 1 liter air.
b)      Membuat larutan savlon 1%
    Campurkan 10 cc savlon kedalam 1 liter air.
d.      Cara Membuat larutan PK (Kusyati, 2006. p.184)

Keterangan :
V1   Jumlah pelarut (air) yang sudah diketahui
V2    Jumlah pelarut (air) yang dicari
K1   Jumlah PK yang tersedia
K2   Konsentrasi PK yang dibutuhkan (1/4000)

Contoh :
      Jika diketahui V1=2 liter, K1=50/100, dan K2=1/4000,berapa V2 ?
Jawab :

Cara 1
V2 = 0,001 Liter
V2 =  liter
V2 = 1 cc

Cara 2
V2  0,5 = 0,5
V2 = 1 cc

III.             Pengelolaan alat dan bahan terkontaminasi (Kusyati, 2006. p.185)
1.      Membersihkan dan mensterilkan sarung tangan (Kusyati, 2006. p.185)
a.       Persiapan alat (Kusyati, 2006. p.185)
1)      Sarung tangan
2)      Sabun
3)      Kain pengering
4)      Talk
5)      Tablet-tablet formalin
6)      Tromol/stoples
b.      Prosedur pelaksanaan (Kusyati, 2006. p.185)
1)      Bersihkan sarung tangan dan periksa apakah ada kebocoran, yaitu dengan memasukkan udara kedalam sarung tangan, kemudian celupkan kedalam air bersih. Jika ditemukan kebocoran, pisahkan.
2)      Keringkan dengan menggantungkan dulu sarung tangan, lalu lap dengan kain pengering pada kedua sisinya dengan hati-hati jangan sampai sobek.
3)      Bedaki tipis-tipis pada kedua sisinya, kemudian atur sarung tangan sepasang-pasang.
4)      Sterilkan sarung tangan didalam tromol/stoples tertutup yang berisi formalin selama 24 jam (dihitung mulai dari jam dimasukkan).
5)      Selesaikan, bereskan alat-alat, dan simpan di tempat semula.

2.      Vlamberen (Mensterilkan dengan cara membakar) (Kusyati, 2006. p.185)
a.       Persiapan alat (Kusyati, 2006. p.185)
1)      Lampu spiritus
2)      Spiritus bakar (brand spiritus)
3)      Korek api
4)      Piala ginjal berisi air
5)      Beberapa buah kapas bulat
6)      Korentang steril
7)      Tromol yang berisi kasa steril
8)      Lap biru
b.      Prosedur pelaksanaan (Kusyati, 2006. p.186)
1)      Cuci terlebih dahulu alat-alat yang disterilkan, kemudian keringkan hingga kering.
2)      Letakkan alat-alat keperluan diatas meja.
3)      Basahi bola kapas dengan spiritus bakar, jangan terlalu basah, kemudian letakkan didalam alat yang akan disterilkan.
4)      Nyalakan lampu
5)      Ambil dengan korentang steril, kapas bulat yang telah dibasahi dengan spiritus bakar dan nyalakan. setelah itu, sterilkan bagian dalam dan tutup alat-alat di vlamber.
6)      Setelah selesai, buang kapas dalam piala ginjal berisi air. Setelah steril, segera tutup alat-alat, kemudian bersihkan bagian yang telah disterilkan dengan kasa/stuffer steril.
7)      Selesaikan, bersihkkan alat-alat, dan kembalikan ke tempatnya masing-masing.
3.      Mendesinfeksi dan mensterilkan alat-alat dari logam (Kusyati, 2006. p.186)
a.       Persiapan alat (Kusyati, 2006. p.186)
1)      Menyediakan kom berisi air bersih atau air mengalir
2)      Piala ginjal
3)      Sabun
4)      Lap
5)      Sterilisator
6)      Kain kasa
b.      Prosedur pelaksanaan (Kusyati, 2006. p.186)
1)      Setelah dipergunakan, bilas semua alat dibawah air mengalir, kemudian rendam dalam larutan lisol 2% selama 2 jam (bekas penyakit menular direndam selama 24 jam).
2)      Kemudian, cuci setiap alat dengan sabun, bilas sampai bersih.
3)      Setelah dibersihkan, masukkan kedalam sterilisator setelah air didalamnya mendidih selama 15-20 menit, sedangkan untuk alat-alat logam seperti pisau (distouri), gunting, dsb., masukkan setelah air mendidih selama 3-5 menit.
4)      Setelah alat-alat steril, angkat dengan korentang steril, lalu simpan dan atur dalam baki steril atau masukkan kedalam instrumen vloistof.
5)      Bereskan alat-alat dan dimpan ditempat semula.

4.      Mendesinfeksi dan mensterilkan alat-alat dari gelas (Kusyati, 2006. p.187)
a.       Persiapan alat (Kusyati, 2006. p.187)
1)      Menyediakan kom berisi air bersih atau air mengalir
2)      Piala ginjal
3)      Sabun
4)      Lap
5)      Sterilisator
6)      Kain kasa
7)      Lidi kapas (jika perlu)
b.      Prosedur pelaksanaan (Kusyati, 2006. p.187)
1)      Bilas alat-alat dengan air bersih.
2)      Bersihkan pengisap dan tabung bagian dalam dengan lidi kapas atau sikat dengan sabun.
3)      Bilas dengan air bersih.
4)      Bersihkan jarum (dengan cara disemprotkan atau jika perlu dengan mandarin).
5)      Pada sterilisator, letakkan spuit dan pengisapnya berdampingan, begitu juga jarum, kemudian biarkan dalam sterilisator dengan air mendidih selama 15-20 menit.
6)      Setelah steril, simpan alat-alat dalam baki steril
7)      Bereskan alat-alat dan simpat di temapat semula.

5.      Mendesinfeksi dan mensterilkan alat-alat dari karet (Kusyati, 2006. p.187)
a.       Persiapan alat (Kusyati, 2006. p.187)
1)      Bensin
2)      Spuit
3)      Kapas
b.      Prosedur pelaksanaan (Kusyati, 2006. p.187)
1)      Bersihkan alat-alat, dan bersihkan bekas plester dengan bensin.
2)      Setelah direndam dalam larutan lisol 2% selama 2 jam, bilas kateter, sondfe/maag slang dan cuci dengan sabun. Bersihkan bagian dalamnya dengan spuit/semprit atau dengan air mengalir sambil dipijit sampai bersih.
3)      Setelah itu, rebus selama 3-5 menit dalam air mendidih (masukkan alat-alat setelah air mendidih)
4)      Bereskan alat-alat dan simpan ditempat semula.

IV.             Pertimbangan Khusus Pemeberian Obat pada Kelompok Usia Tertentu (Potter & Perry, 2005 p.1021)
  1. Bayi dan Anak (Potter & Perry, 2005 p.1021)
    Usia, berat badan, area permukaan tubuh, dan kemampuan mengasorpsi, metabolisme, dan mengekresi obat pada anak berbeda-beda. Dosis untuk anak lebih rendah daripada dosis pada orang dewasa, sehingga perhatian khusus perlu diberikan dalam menyiapkan obat untuk anak. Obat biasanya tidak disiapkan atau dikemasa dalam rentang dosis yang distandardisasi untuk anak. Menyiapkan suatru dosisi yang diprogramkan dari jumlah yang tersedia membutuhkan perhitungan yang teliti.
    Orang tua adalah sumber yang berharga dalam memepelajari cara terbaik pemberian obat pada anak. Kadangkala trauma pada anak berkurang, jika orang tua yang memberikan obat dan perawat mengawasinya.
    Semua anak memerlukan persiapan psikologis khusu sebelum menerima obat. Supaya anak koo[eratif, perawatan diperlukan yang suportif. Perawat menjelaskan prosedur kepada anak, menggunakan kata-kata yang pendek dan bahasa yang sederhana, yang sesuai dengan tingkat pemahaman anak. Anak keci yang menolak bekerja sama dan terus menolak, walaupun telah dijelaskan dan didorong mungkin perlu dipaksa secara fisik. Apabila hal ini terjadi lakukan dengan cepat dan hati-hati. Jika anak dan orang tua dilibatkan , perawat kemungkinan lebih berhasil dalam memberikan obat. Misalnya, katakana ‘’ sekarang waktunya meminum pilmu. Kamu ingin dengan air atau jus?’’ izinkan anak menetapkan pilihan, jangan pernah memberi anak pilihan untuk tidak meminum obat. Setelah obata diberikan, perawat dapat memberi pujian kepada anak atau menawarkan hadiah kecil, misalnya lambing binatang atau mata uang.
  1. Lansia (Potter & Perry, 2005 p.1021)
    Pemberian oabat pada lansia juga membutuhkan pertimbangan khusu. Di samping perubahan fisiologis penuaan, factor tingkah laku ekonomi juga mempengaruhi penggunaan obat pada lansia.
    Individu berua lebih dari 65 tahun merupakan pengguna obat terbanyak. Perawat memberi obat kepada lansia harus mencermati liama pola penggunaan obat oleh klien lansia sebagaimana yang dididentifikasi Ebersole dan Hess (1994).
a.       Polifarmasi. Artinya klien menggunakan banyak obat, yang diprogramkan atau tidak, sebagai upaya mengatasi beberapa gangguan secara bersama. Apabila ini terjadi, ada risiko interaksi oabat dengan obat lain dan makanan. Klien juaga memiliki risiko lebih besar untuk mengalami reaksi yang merugikan terhadapa pengobatan.
b.      Meresepkan obat sendiri (self-prescibibng of nedication). Berbagai gejala dapat dialami oleh klien lansia, misalnya nyeri, konstipasi, insomnia, dan ketidakmampuan mencerna. Semua gejala ini ditemukan pada pengguaan obat yang dijual bebas.
c.       Obat yang dijual bebas. Obat yang dijual bebas digunakan oleh 75% lansia untuk meredakan gejala. Banyak preparat yang dijual bebas mengandung bahan-bahan yang, jikaa tidak digunakan dengan tepat, dapat menimbulkan efek samping yang tidak diinginkan, efek yang merugikan, atau dikontraindikasi untuk kondisi klien.
d.      Penggunaan obat yang salah (misuse). Bentuk-bentuk penggunaan obat yang salah oleh lansia antara lain : penggunaan berlebih (overuse). Penggunaan yang kuran (underuse), penggunaan yang tidak teratur (erratic use), dan penggunaan uang dikontraindikasikan.
e.       Ketidakpatuhan (noncompliance). Ketidakpatuhan didefinisikan sebagai penggunaan obat yang salah secara disengaja. Dari semua populasi lansia, 75% diantaranya tidak mamatuhi program pengobatan secara sengaja dengan mengubah dosis obat dirasa tidak efektif atau efek samping obat membuat lansia tidak nyaman.


















BAB III
PENUTUP
1.      Kesimpulan
    Tanda vital di ukur untuk menentukan status kesehatan klien biasanya (data dasar) atau untuk menguji respon klien terhadap stress fisiologi atau psikologi atau terhadap terapi medik atau keperawatan. Tanda vital dan pengukuran fisiologis lainnya dapat menjadi dasar untuk pemecahan masalah klinis. Perubahan dalam satu tanda vital dapat mempengaruhi karakteristik dari tanda vital lain (Potter & Perry.2005. p.810)
   Persiapan dan pemberian obat harus dilakukan dengan akurat oleh perawat. Perawat harus memberikan perhatian penuh dalam mempersiapkan obat dan sebaliknya tidak melakukan tugas lain ketika memberikan obat. Perawat menggunakan “lima benar” untuk menjamin pemberian yang aman, yaitu : benar obat, benar dosis, benar klien, benar rute pemberian obat dan benar waktu (Potter & Perry.2005. p.1017)

2.      Saran
     Saran penulis dalam makalah ini adalah sebagai berikut :
a.       Perawat harus mempunyai pengetahuan dasar dalam pemeriksaan fisik dasar klien sesuai dengan tahap tumbuh kembang manusia.
b.      Apabila klien mempertanyakan kesehatannya, perawat tidak boleh mengabaikan hal tersebut.
DAFTAR PUSTAKA
     Jakarta : EGC
Kozier, et all.2009. Buku Ajar Praktik Keperawatan Klinis. Jakarta : EGC.
Kusyati, Eni et al. 2006. Keterampilan dan Prosedur Laboratorium Keperawatan Dasar.
    Jakarta : EGC
Perry, Anne Grifin.2005. Buku saku keterampilan dan prosedur dasar keperawatan eds.5 .Jakarta : EGC
Potter & Perry. 2005. Fundamental Keperawatan : Konsep, proses dan praktik.
    Jakarta : EGC


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar